Apresiasi
Disclaimer : You're human after all
Kenapa apresiasi dan perasaan bahwa diri ini dihargai terasa masih sangat jarang?
Kenapa banyak yang tak mengerti, bahwa aku pun ingin diapresiasi kadang kali
Tak perlulah setiap saat, melainkan hanya sesekali
Hati pun menghangat ketika mengetahui diri ini diapresiasi dan dihargai
Apakah mungkin hal ini yang hilang, sehingga kita kurang erat sebagai keluarga?
Aku pernah sudah bersusah susah berpayah payah mencoba membantu, tetapi dibalas hanya dengan terima kasih yang tidak sungguh sungguh disampaikan
Entah, aku tak ingat.. karena aku merasa aku nggak dihargai. Waktu dan pikiran yang aku kerahkan, seperti emang udah semestinya kaya gitu dan diluar tanggung jawabnya. Bukan salahnya aku lelah hati lelah pikiran, sampai akhirnya kita sama sama meledak di waktu yang bersamaan karena sampai di titik jenuh. Kau berteriak dan begitu pula aku. Hanya saja, mungkin reaksiku terkesan berlebihan, karena orang lain nggatau betapa tertekannya aku, karena pada saat itu amanahku tak hanya satu, tapi mungkin sampai sepuluh
Aku mencoba tetap berelasi baik, tetapi siapa sangka ketika momen berusaha tercipta untuk kita sama sama bersenang senang saja justru buyar karena candaan yang masuk ke dada. Aku yang tengah riweuh, hanya bisa terperangah ketika mendengar kejadian itu dari salah satu pelontar canda. Ini mengganjal.. terus mengganjal, bahkan sampai sekarang. Entahlah apakah ganjalan ini akan terus berlanjut. Menurutku, aku pasti bisa sampai menangis kalau aku bertemu dan membahas masalah ini lagi sampai tuntas. Hubungan kita terlihat baik baik saja karena kita sama sama memendam masalahnya. Karena tidak ada kata maaf yang terlontar, baik itu dari aku ataupun dari kamu. Aku tak mengerti rupanya tak enak hati pun bisa sampai seperti ini
Kesalku yang memuncak kala ia bercerita bahwa rupanya dia tak menunaikan tugasnya membuatku tak habis pikir. Mengapa ia bisa sama sekali meninggalkan kewajibannya, ketika ia pun seharusnya menjadi orang yang kami jadikan contoh. Aku kesal, sangat kesal. Tapi semuanya terpendam, aku luapkan justru ke orang lain, aku mengadu. Yang kemudian justru terdengar jelas ditelinganya bahwa aku tengah mengadu. It really f*cked up.
Tapi yang aku pahami juga, diriku di kala itu belum pernah membayangkan seperti apa kalau aku ada diposisinya. Segala sesuatu yang terjadi secara bersamaan, bertabrakan, dan mungkin sebenarnya ia hanya butuh pertolongan untuk menguraikan segenap permasalahannya. Jadi de, coba untuk memahami orang lain, pahami posisinya. Jadi orang lain itu sungguh sulit.. terlebih yang kamu tahu hanyalah sebagian dari keseluruhan cerita tentang dirinya. Please put your feet on other's shoes
Dear me, semangat terus untuk menunaikan apa yang ada di pundakmu. Kamu sudah sampai disini tak lain karena Allah mengizinkan demikian, karena Allah memberimu kekuatan, karena ayah ibu pun memberi restu, serta tentu karena teman teman mengandalkanmu dan terus mendukungmu. Nikmatmu sedemikian banyak, tapi apakah kamu sudah bersyukur?
Alhamdulillah ala kulli haal
Komentar
Posting Komentar